Kaum Tua Sifat 20 Darussamin
Sunday, May 19, 2013
Saturday, May 18, 2013
DO'A AGAR DIANUGERAHI ANAK YANG CERDAS DAN SALEH

ALLAAHUMMAJ’ ALNII WA AULAADII WA DZURRIYAATII MIN AHLIL ‘ILMI WA AHLIL KHAIRI WA LAA TAJ’ ALNII WA IYYAAHUM MIN AHLIS SUU’I WA AHLIDH DHAIRI WARZUQNII WA KHULUQAN HASANAN WAT TAUFIIQA LITHTHAA’ATI WA FAHMAN NABIYYIINA.
“Ya Allah, jadikanlah aku, anak-anakku, dan keluargaku termasuk golongan orang yang berilmu dan golongan orang yang baik. Dan janganlah Engkau jadikan aku dan mereka dari golongan orang jahat dan orang yang membuat mudharat. Berilah rizki kepadaku dan kepada mereka berupa ilmu yang bermanfaat, rizki yang lapang, budi pekerti yang baik, pertolongan untuk taat, kepahaman para Nabi.”
“Ya Allah, jadikanlah aku, anak-anakku, dan keluargaku termasuk golongan orang yang berilmu dan golongan orang yang baik. Dan janganlah Engkau jadikan aku dan mereka dari golongan orang jahat dan orang yang membuat mudharat. Berilah rizki kepadaku dan kepada mereka berupa ilmu yang bermanfaat, rizki yang lapang, budi pekerti yang baik, pertolongan untuk taat, kepahaman para Nabi.”
Friday, May 17, 2013
KEIMANAN ABU TALIB
Abu Thalib bersyahadat dengan hatinya
Sayyid Ahmad bin Zaini dahlan salah seorang yang sangat mencintai Sayyidina Muhammad shalallahu alaihi wasallam, beliau mengarang kitab yang berjudul ,“Asna Al- Mathalib Fi Najah Abi Thalib”.
Banyak kaum muslimin yang mempersoalkan, apakah Abu Thalib mukmin ataukah kafir.
Bahkan sampai kinipun pertanyaan itu masih tetap saja menggantung,tidak ada jawaban yang bisa di pegang.
Atau bahkan barangkali mendapat informasi yang kurang tepat sehingga menyimpulkan Abu Tahlib termasuk orang kafir.. Naudzubillah
Abu Tahlib adalah paman sekaligus pelindung Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sejak beliau berusia 6 tahun sudah dipelihara dan dilindunginya.
Dengan gigih sang paman melindungi putra Abdullah, kakak kandungnya, itu dari ancaman kaum kafir quraisy yang ingin membunuhnya.
Demi menjaga keponakannya itu, Abu Tahlib memerintahkan kedua anak kandungnya , yaitu Ja`far dan Ali untuk melindungi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Abu Thalib pulalah orang yang mengucapkan sumpah yang sangat terkenal dalam sejarah islam, ketika para pembesar Quraisy minta agar ia menyerahkan Muhammad keponakannya itu.
“Andai kalian letakkan Matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, niscaya aku tetap tidak akan menyerahkan Muhammad”.
Bibit keimanan Abu Thalib kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah tampak sejak ia melihat tanda-tanda kenabian pada keponakannya itu.
Suatu hari, ia melihat Abdul Muthallib kakeknya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggendong cucunya yang masih kecil itu di pundaknya sambil memohon hujan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di puncak bukit Abu Qubais,…Subhanallah ketika itu juga turun hujan.
Abu Thalib juga pernah membuktikannya ia menggendong Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang ketika itu masih kecil di pundaknya berdiri di dinding Ka`bah, ia memohon hujan kepada Allah Ta`la, tiba-tiba gumpalan awan berkumpul lalu menyirami lembah-lembah di Makkah dengan curahan hujan yang lebat, sehingga permukaan tanah menjadi gembur dan subur.
Di saat remaja Abu Tahlib pernah mengajaknya berdagang ke syam. Ditengah jalan bertemu dengan seorang pendeta yang bernama Buhairah yang melihat tanda-tanda kenabian pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia menyarankan agar cepat-cepat memebawanya pulang ke Makkah, khawatir terhadap ancaman kaum Yahudi, Abu Thalib pun mengikuti saran tersebut.
Abu Thalib dan keluarganya jika mereka makan bersama tidak kenyang, namun bila Rasululllah shallallahu alaihi wasallam ikut makan mereka merasa kenyang.
Setiap minum susu, merasa nikmat jika di minum terlebih dahulu oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
“Engkau wahai Muhammad benar-benar telah di berkahi, “Ucap Abu Thalib”.
Keimanan Abu Thalib tidak pernah di perlihatkannya, tujuannya agar dapat menjaga dan melindungi terus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari gangguan kaum kafir Quraisy.
Abu Thalib melakukan politik kamuflase di hadapan kaum kafir quraisy, agar mereka tidak mengganggu keponakannya.
Abu Tahlib juga telah mengucapkan kalimat tauhid, hakikat kerasulan dan pembenaran terhadap kenabian rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam syair-syairnya.
Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin 'Ali berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Qutaibah berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin 'Abdullah bin Dinar dari Bapaknya berkata, Aku mendengar Ibnu 'Umar menirukan sya'irnya Abu Thalib,
#Wajahnya yang putih mengharap turunnya awan (hujan),
#sumber kehidupan anak-anak yatim dan pelindung para janda.
Dan Umar bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepada kami Salim dari Bapaknya, barangkali aku sebutkan kepadanya perkataan syair -sementara aku lihat wajah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta turunnya hujan. Maka beliau belum selesai, setiap aliran air telah penuh dengan air- Wajahnya yang putih mengharap turunnya awan (hujan), #sumber kehidupan anak-anak yatim dan pelindung para janda. Itulah perkataan Abu Thalib. (HR Bukhari 953)
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam minta agar pamannya itu mengucapkan dua kalimat syahadat hal itu semata-mata untuk menyempurnakan keimanannya diriwayatkan dalam shahih Bukhari bahwa ia tak mau mengucap syahadat saat wafatnya. namun ada juga hadits riwayat shahih Bukhari bahwa Rasul shallallahu alaihi wasallam ditanya : "Apakah tidak bermanfaat perjuangan Abu Thalib membantumu dalam berdakwah karena ia wafat menolak syahadat..?, maka Rasul shallallahu alaihi wasallam menjawab : "Sungguh bermanfaat, ia kini berada di pantai neraka, jika bukan karena aku, niscaya ia di jurang neraka yg terdalam" (Shahih Bukhari).
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah telah menceritakan kepada kami Abdul Malik dari Abdullah bin Al Harits bin Naufal dari Abbas bin Abdul Mutthalib dia berkata; "Wahai Rasulullah, apakah anda dapat memberi manfa'at kepada Abu Thalib, karena dia telah mengasuhmu dan terkadang marah (untuk memberikan pembelaan) kepadamu." Beliau menjawab; "Ya. ia berada di bagian neraka yang dangkal, dan kalaulah bukan karena diriku, niscaya berada di dasar neraka."
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Al Laits telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Hadi dari Abdullah bin Khabbab dari Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau bercerita di sampingnya, beliau menyebutkan tentang pamannya (Abu Thalib). Beliau berkata: Semoga syafa'atku bermanfaat baginya pada hari qiyamat. (HR Bukhari)
Sebagian ulama, diantaranya Al-hafidh Al- Imam As Suyuthiy menjelaskan makna hadits-hadits tersebut mustahil Rasul shallallahu alaihi wasallam mensyafaati atau menolong orang kafir, jika Abu Thalib wafat dalam kekufuran maka tak mungkin Rasul shallallahu alaihi wasallam menyelamatkannya dari dasar neraka ke pantai neraka, maka sebagian ulama berkesimpulan bahwa Abu Thalib beriman dengan hatinya, dan tak mau mengucapnya karena takut Rasul shallallahu alaihi wasallam akan semakin ditekan oleh orang Quraisy. Perlu kita ingat bahwa ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta Abu Thalib mengucapkan syahadat, Abu Jahal berada di dekat mereka.
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri dia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Sa'id bin Al Musayyab dari bapaknya dia berkata; 'Saat Abu Thalib sekarat, nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk dan di dekatnya ada Abu Jahal dan 'Abdullah bin Abu Umaiyah, nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Paman! Ucapkan: LAA ILAAHA ILLALLAAH sebuah kalimat yang akan aku jadikan sebagai pembela untukmu di sisi Allah 'Azza wa Jalla (HR Bukhari)
Kesimpulannya Abu Thalib bersyahadat dengan hatinya, namun ia berdosa besar karena menolak perintah Rasul shallallahu alaihi wasallam untuk bersyahadat dengan lisannya.
“Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad nuuri-kas saari wa madaadikal jaari wajma’nii bihi fi kulli athwaari wa ‘ala alihi wa shahbihi yannuur”
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad, sang cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-Mu yang tak kunjung putus, dan kumpulkanlah aku dengan Rasulullah di setiap zaman, serta shalawat untuk keluarganya dan sahabatnya, wahai Sang Cahaya.”
Tuesday, May 14, 2013
syair syaikh sya rawi
Syaikh asy-Sya’rawi dawuh:
من ابتغى صديقا بلا عيب عاش وحيدا
Barangsiapa mencari teman yang tanpa cela, maka ia akan hidup seorang diri
من ابتغى زوجة بلا نقص عاش اعزبا
Barangsiapa mencari istri yang bebas dari kekurangan, maka ia akan hidup membujang
من ابتغى حبيبا بدون مشاكل عاش باحثا
Barangsiapa mencari kekasih dengan tanpa keruwetan, maka ia akan hidup dengan pencarian tanpa henti (galau terus)
من ابتغى قريبا كاملا عاش قاطعا لرحمه
Barangsiapa mencari kerabat yang sempurna, maka ia akan hidup dengan memutus silaturrahim
Monday, May 13, 2013
bahasa aceh
Assalamualaikum warahmatullah,
Tjara Teumuléh Basa Atjèh
Disinoë ulôn peutrang batjut pakriban njang ta tuléh basa Atjèh njang seubeutôi djih. Tjara teumuléh njoë ka lheuëh Paduka Njang Mulia peutrang rot Madjalah AGAM edisi thon 1980. Tjara njoë hana sôsah meunjo getanjoë ta tém pakoë dan dalam 2 uroë ka djeuët teuh ta teumuléh deungon beuna dan di ureuëng batja pih hana mumang.
Teuma peuë njang djeuët keu meudalèh dalam teumuléh basa Atjèh njoë? Le that daléh djih, seubab basa Atjèh njoë that meusaneut dalam tjara meututô, adab ta marit, adab ta tuléh dan ta meubatja. Meunan tjit meunjo hana beutôi bak ta teumuléh djeuët keu gura bak ta batja. Hana djeuët ta peuphom deungon sigo batja.
Untuk djeuët ta peuphôm batja tuléh dalam basa Atjèh pajah ta ngui tanda dalam haraih njang meuteuntèë. Pakriban tjunto djih njan? Dimijub njoë djeuë ta kalon deungon ta peugot tjunto haraih njang djitamah tanda dan tjunto narit su djih.
`a = Tjunto djih `ap bu; ta pasoë bu dalam babah droë deungon djaroë ta ngui alat atawa hana, djum`at nan uroë, Sa`ad nan ureuëng.
`u = Tjunto djih `uët; ta peutamong peunadjôh dalam pruët droë rot rukuëng.
`I = Tjunto djih glang `i, `iëk dalam basa Meulayu air seni atau air kencing.
`è=. Tjunto djih pa`è; tjitjak raja. `èt saban deungon paneuk.
`o = Tjunto djih `oh noë ka, ma`op.
è = Tjunto narit djih keudè, tapè, arè, lunkè keubeuë, adè, adèë, hèk, pèh tèm
é = Tjunto narit djih mate, sihé, padé, reulé, beudé, iték, parék, adék, burék
ë = Njoë haraih untuk meutanda su akhé djih meualôn, tjunto djih lagèë, ië, Pidië, laloë, lakoë, aluë, takuë.
Seudangkan abjad njang laén saban mandum. Teuma meunjo ta tjok seunipat njang ka geupeugot ulèh Paduka Njang Mulia Wali Neugara Tengku Tjhik di Tiro Hasan Muhammad hana tangui EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), seubab njan tjit meu-untông keu gop sagai. Geutanjoë na seunipat droë njang kong, saban lagèë basa laén njang na ateuëh rhuëng dônja njoë.
Meunjo na njang peureulèë teumanjong dalam hai njoë, hana peuë wéh-weuëh neukirém ladju teumanjong njan bak email ulon raseuki@gmail.com, deungon ichlaih haté ulôn djaweuëb.
Musanna Tiro
Monday, April 15, 2013
Hakikat zikir
Hakikat Dzikir
Zikir itu bukan sampai banyak, melainkan sampai kelu. "Man arafallaha kalla lisanuhu", siapa mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan, kelu lidahnya. (hadis).
Mulut kita berucap "Laa ilaaha illallah". Dari mana munculnya perkataan ini? Dari hati. "Laa ilaaha illalah" yang dari hati ini dari mana asalnya? Dari syir hati. Yang dari syir hati ini dari mana? Tentulah dari dalam syir. Yang di dalam syir itu siapa? Rahasia Allah.
Jadi kalau kita cermati, siapa yang sebenarnya berzikir itu?
Syariatnya => kita berzikir
Hakikatnya => kita menzikirkan Yang Punya Nama
Makrifatnya => Yang Punya Zikir Berzikir
Kalau belum tahu bahwa yang di dalam syir ini berzikir, bagaimana Anda akan karam dalam zikir? Paling-paling Anda hanya dapat karam dalam sebutan zikir saja. Kalau Anda dapat yang di dalam syir itu berzikir, tentu berjalanlah Anda dengan yang di dalam syir itu kepada Allah. Inilah amal yang sampai ke Tuhan. Jadi, tidak akan mudah untuk karam di dalam syir kalau kita tidak mendapati yang di dalam syir itu berzikir.
Takrif Zikir [Tujuan]
Kalau kita hendak berzikir, perlu dulu tentang takrif zikir atau tujuan zikir. Yang dikatakan tarikat itu jalan. Jalan menuju ke mana? Tentulah menuju kepada yang dimaksud. Yang dimaksud itulah tujuan zikir, yaitu Allah.
Kalau mulut berzikir menyebut laa ilaaha illallah, yang di dalam syir itulah yang kekal kepada Alah. Karena munajatnya orang yang berzikir itu Ilaa Ilahu Anta maksudi wa makrifataka bi a'tinii mahabbata wa makrifataka, 'tidak ada yang kumaksud hanya Engkau ya Allah'.
Kalau sudah Allah yang kita maksud, untuk apa terpengaruh dengan yang terpandang-pandang dalam zikir. Kalau terpengaruh dengan yang terpandang-pandang ketika berzikir, berarti kita sudah menyimpang dari maksud semula karena mestinya munajat kita hanya pada Allah. Allah itu sudah pasti laysa kamitslihi syaiun. Apa pun yang terpandang-pandang itu bukan laysa kamitslihi syaiun. Biar surga sekali pun yang dipandangkan, itu tetap bukan yang laysa kamitlsihi syaiun. Orang yang tidak bermaksud kepada selain Allah tidak akan terpengaruh dengan itu.
Jadi dalam beramal ibadah apa saja, takrif (tujuan) itulah yang kita pegang. Bukan zikirnya yang kita pegang, takrifnya itu yang kita pegang.
Kalau sudah pada Allah saja takrif zikir, mestinya tidak mungkin ada orang berzikir sampai histeris, mabuk, atau bahkan pingsan karena Allah tidak bersifat zalim. Jangan sampai kamu banyak berzikir lalu malah timbul kelainan jiwa.
Munajat
Munajat itulah niat ikhlas orang yang berzikir. Tidak ada maksud kepada selain Allah. Kalau tidak paham tentang munajat dan takrif zikir, bisa-bisa dimabukkan oleh zikir. Asyik kepada yang bukan dimaksud semula. Kalau hal yang bukan Allah sudah masuk ke badan, inilah yang jadi penyakit.
Musyahadah
Zikir itu untuk mendapatkan musyahadah. Musyahadah untuk mendapat fana. Fana fillah itu untuk mendapatkan baqa billah. Kalau sudah baqa billah, mana ada fana lagi karena fana itu awal baqa.
Kalau sudah dapat baqa, mana ada fana lagi. Kalau sudah dapat fana, mana ada musyahadah lagi. Kalau sudah dapat musyahadah, mana ada zikir lagi? Inilah yang disampaikan di awal tulisan ini. Bahwa zikir itu bukan sampai banyak, melainkan sampai kelu.
Sebetulnya jalan yang sampai kepada Allah itu ada empat, yaitu
Syariat ← kenyataan yang di-ada-kan Allah. Berlaku pada anggota zahir, yaitu berupa perintah (amar)
dan larangan (nahi);
Tarikat ← jalan yang menyempurnakan syariat. Berlaku pada hati. Contoh praktiknya: mulut berkata "merah". Hati harus yakin bahwa barang yang disebut itu benar-benar merah. Inilah disebut menyempurnakan syariat.
Hakikat ← keyakinan kita kepada yang wajib dipercaya. Hanya satu, yaitu Allah. Berlaku pada syir hati (nyawa).
Makrifat ← pengenalan yang sempurna tentang Allah. Bagaimana pengenalan yang sempurna pada Allah itu? Yaitu semua yang terpandang, terpikir, terasa, tersentuh, tercium, dan lain-lain itu bukan Allah. Karena orang yang sempurna mengenal Allah itu keyakinannya tetap. Bahwa Allah itu laysa kamitslihi syaiun.
Syariatnya, kita berzikir.
Makrifatnya, Rahasia Allah itulah yang berzikir atau yang di dalam syir itulah yang berzikir.
Perkataan ini bukan hendak menjadikan kita adalah Allah atau setara dengan Alah, melainkan kita meyakinkan Zat Allah itulah Diri Allah, bukan kita adalah Allah.
Kesimpulan kata: Zat Allah itulah yang memuji Tuhannya.
Kalau kita sudah dapat jalan pengetahuan ini, dapatlah kita jalan musyahadah, muraqabah, dan jalan ahlul kasyaf.
Jalan musyahadah itu hanya kita mengetahui. Amalannya bukan pakai baca-baca lagi karena amalan batin itu pakai pandangan mata hati (syuhud matahati)
Jalan muraqabah itu adalah pandangan mata hati tidak lepas dari takrif. Seperti kucing yang mengintai tikus. Fokus tidak berpaling dari target.
Jalan ahlul kasyaf. Ini tidak cukup dengan paham saja, melainkan harus dengan bimbingan khusus. Seperti kita membimbing bayi sampai dia baligh.
Contoh praktik ahlul kasyaf:
Kita melihat tulisan. Sebenarnya yang kita lihat kertas putih, tetapi yang tampak tulisannya. Justru karena melihat kertas putih itulah kita bisa melihat tulisan. Coba andai kertas putih itu terbuka, masuklah ke kertas putih itu. Akan tampak semua tulisan. Ini baru mukadimah soal kasyaf.
Tips Praktik Zikir yang Mengesakan Allah
Di awal tulisan tadi disebutkan "zikir itu bukan sampai banyak, melainkan sampai kelu". Nah, bagaimana cara praktiknya?
Ucapkanlah kalimah-kalimah zikir atau wirid itu tanpa terputus. Ucapkan secara bersambung dalam satu tarikan napas.
contoh zikir yang benar mengesakan Allah: meski jumlah bacaannya banyak, Allah-nya tetap Satu.
"Allaaahu...Allaahu...Alla ahu."
contoh zikir yang lalai mengesakan Allah. Jumlah bacaannya banyak, jumlah Allah-nya juga ikut banyak.
"Allaaah. Allaah. Allaah."
Bisa jadi karena banyak yang membaca seperti cara terakhir itulah banyak orang yang setelah banyak berzikir malah jadi "tidak waras." Itu sebabnya zikir itu bukan sampai banyak, melainkan sampai kelu. Kalau banyak-banyak, banyak juga yang mau masuk ke badan kita lalu mengaku Tuhan. Inilah siasat Iblis-setan agar manusia-manusia saleh ahli zikir tidak lurus sampai ke Allah, melainkan kepada yang terpandang-pandang, terasa-rasa, terpikir-pikir, terbayang-bayang, dan lain-lain. Nauzubillah.
Zikir itu bukan sampai banyak, melainkan sampai kelu. "Man arafallaha kalla lisanuhu", siapa mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan, kelu lidahnya. (hadis).
Mulut kita berucap "Laa ilaaha illallah". Dari mana munculnya perkataan ini? Dari hati. "Laa ilaaha illalah" yang dari hati ini dari mana asalnya? Dari syir hati. Yang dari syir hati ini dari mana? Tentulah dari dalam syir. Yang di dalam syir itu siapa? Rahasia Allah.
Jadi kalau kita cermati, siapa yang sebenarnya berzikir itu?
Syariatnya => kita berzikir
Hakikatnya => kita menzikirkan Yang Punya Nama
Makrifatnya => Yang Punya Zikir Berzikir
Kalau belum tahu bahwa yang di dalam syir ini berzikir, bagaimana Anda akan karam dalam zikir? Paling-paling Anda hanya dapat karam dalam sebutan zikir saja. Kalau Anda dapat yang di dalam syir itu berzikir, tentu berjalanlah Anda dengan yang di dalam syir itu kepada Allah. Inilah amal yang sampai ke Tuhan. Jadi, tidak akan mudah untuk karam di dalam syir kalau kita tidak mendapati yang di dalam syir itu berzikir.
Takrif Zikir [Tujuan]
Kalau kita hendak berzikir, perlu dulu tentang takrif zikir atau tujuan zikir. Yang dikatakan tarikat itu jalan. Jalan menuju ke mana? Tentulah menuju kepada yang dimaksud. Yang dimaksud itulah tujuan zikir, yaitu Allah.
Kalau mulut berzikir menyebut laa ilaaha illallah, yang di dalam syir itulah yang kekal kepada Alah. Karena munajatnya orang yang berzikir itu Ilaa Ilahu Anta maksudi wa makrifataka bi a'tinii mahabbata wa makrifataka, 'tidak ada yang kumaksud hanya Engkau ya Allah'.
Kalau sudah Allah yang kita maksud, untuk apa terpengaruh dengan yang terpandang-pandang dalam zikir. Kalau terpengaruh dengan yang terpandang-pandang ketika berzikir, berarti kita sudah menyimpang dari maksud semula karena mestinya munajat kita hanya pada Allah. Allah itu sudah pasti laysa kamitslihi syaiun. Apa pun yang terpandang-pandang itu bukan laysa kamitslihi syaiun. Biar surga sekali pun yang dipandangkan, itu tetap bukan yang laysa kamitlsihi syaiun. Orang yang tidak bermaksud kepada selain Allah tidak akan terpengaruh dengan itu.
Jadi dalam beramal ibadah apa saja, takrif (tujuan) itulah yang kita pegang. Bukan zikirnya yang kita pegang, takrifnya itu yang kita pegang.
Kalau sudah pada Allah saja takrif zikir, mestinya tidak mungkin ada orang berzikir sampai histeris, mabuk, atau bahkan pingsan karena Allah tidak bersifat zalim. Jangan sampai kamu banyak berzikir lalu malah timbul kelainan jiwa.
Munajat
Munajat itulah niat ikhlas orang yang berzikir. Tidak ada maksud kepada selain Allah. Kalau tidak paham tentang munajat dan takrif zikir, bisa-bisa dimabukkan oleh zikir. Asyik kepada yang bukan dimaksud semula. Kalau hal yang bukan Allah sudah masuk ke badan, inilah yang jadi penyakit.
Musyahadah
Zikir itu untuk mendapatkan musyahadah. Musyahadah untuk mendapat fana. Fana fillah itu untuk mendapatkan baqa billah. Kalau sudah baqa billah, mana ada fana lagi karena fana itu awal baqa.
Kalau sudah dapat baqa, mana ada fana lagi. Kalau sudah dapat fana, mana ada musyahadah lagi. Kalau sudah dapat musyahadah, mana ada zikir lagi? Inilah yang disampaikan di awal tulisan ini. Bahwa zikir itu bukan sampai banyak, melainkan sampai kelu.
Sebetulnya jalan yang sampai kepada Allah itu ada empat, yaitu
Syariat ← kenyataan yang di-ada-kan Allah. Berlaku pada anggota zahir, yaitu berupa perintah (amar)
dan larangan (nahi);
Tarikat ← jalan yang menyempurnakan syariat. Berlaku pada hati. Contoh praktiknya: mulut berkata "merah". Hati harus yakin bahwa barang yang disebut itu benar-benar merah. Inilah disebut menyempurnakan syariat.
Hakikat ← keyakinan kita kepada yang wajib dipercaya. Hanya satu, yaitu Allah. Berlaku pada syir hati (nyawa).
Makrifat ← pengenalan yang sempurna tentang Allah. Bagaimana pengenalan yang sempurna pada Allah itu? Yaitu semua yang terpandang, terpikir, terasa, tersentuh, tercium, dan lain-lain itu bukan Allah. Karena orang yang sempurna mengenal Allah itu keyakinannya tetap. Bahwa Allah itu laysa kamitslihi syaiun.
Syariatnya, kita berzikir.
Makrifatnya, Rahasia Allah itulah yang berzikir atau yang di dalam syir itulah yang berzikir.
Perkataan ini bukan hendak menjadikan kita adalah Allah atau setara dengan Alah, melainkan kita meyakinkan Zat Allah itulah Diri Allah, bukan kita adalah Allah.
Kesimpulan kata: Zat Allah itulah yang memuji Tuhannya.
Kalau kita sudah dapat jalan pengetahuan ini, dapatlah kita jalan musyahadah, muraqabah, dan jalan ahlul kasyaf.
Jalan musyahadah itu hanya kita mengetahui. Amalannya bukan pakai baca-baca lagi karena amalan batin itu pakai pandangan mata hati (syuhud matahati)
Jalan muraqabah itu adalah pandangan mata hati tidak lepas dari takrif. Seperti kucing yang mengintai tikus. Fokus tidak berpaling dari target.
Jalan ahlul kasyaf. Ini tidak cukup dengan paham saja, melainkan harus dengan bimbingan khusus. Seperti kita membimbing bayi sampai dia baligh.
Contoh praktik ahlul kasyaf:
Kita melihat tulisan. Sebenarnya yang kita lihat kertas putih, tetapi yang tampak tulisannya. Justru karena melihat kertas putih itulah kita bisa melihat tulisan. Coba andai kertas putih itu terbuka, masuklah ke kertas putih itu. Akan tampak semua tulisan. Ini baru mukadimah soal kasyaf.
Tips Praktik Zikir yang Mengesakan Allah
Di awal tulisan tadi disebutkan "zikir itu bukan sampai banyak, melainkan sampai kelu". Nah, bagaimana cara praktiknya?
Ucapkanlah kalimah-kalimah zikir atau wirid itu tanpa terputus. Ucapkan secara bersambung dalam satu tarikan napas.
contoh zikir yang benar mengesakan Allah: meski jumlah bacaannya banyak, Allah-nya tetap Satu.
"Allaaahu...Allaahu...Alla
contoh zikir yang lalai mengesakan Allah. Jumlah bacaannya banyak, jumlah Allah-nya juga ikut banyak.
"Allaaah. Allaah. Allaah."
Bisa jadi karena banyak yang membaca seperti cara terakhir itulah banyak orang yang setelah banyak berzikir malah jadi "tidak waras." Itu sebabnya zikir itu bukan sampai banyak, melainkan sampai kelu. Kalau banyak-banyak, banyak juga yang mau masuk ke badan kita lalu mengaku Tuhan. Inilah siasat Iblis-setan agar manusia-manusia saleh ahli zikir tidak lurus sampai ke Allah, melainkan kepada yang terpandang-pandang, terasa-rasa, terpikir-pikir, terbayang-bayang, dan lain-lain. Nauzubillah.
Monday, March 25, 2013
Doa Pagar Rumah
Doa Pagar Rumah
: " يَا أَرْضُ رَبِّي وَرَبُّكِ اللَّهُ ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّكِ وَشَرِّ مَا فِيكِ ، وَشَرِّ مَا خُلِقَ فِيكِ ، وَشَرِّ مَا يَدُبُّ (دَبَّ) عَلَيْكِ ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ (شَرِّ كُلِّ) أَسَدٍ ، وَأَسْوَدَ (وَحَيَّةٍ) وَمِنَ الْحَيَّة ، وَالْعَقْرَبِ (وَعَقْرَبٍ) ، وَمِنْ سَاكِنِي الْبَلَدِ ، وَمِنْ (شَرِّ) وَالِدٍ وَمَا وَلَدَ"
Maksudnya:
AMALAN PEMBATAL SIHIR
أَعُـوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الـشَّـيْطَانِ الـرَّجِـيْمِ
فَـلَـمَّا أَلـْـقَوْا قَالَ مُوْسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ، إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ، إِنَّ اللَّهَ لاَ يُصْلِحُ عَمَلَ الْـمُفْسِدِيْنَ (81) وَيُـحِقُّ اللَّهُ الْـحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْـمُجْرِمُوْنَ (82).
Subscribe to:
Posts (Atom)



