Saturday, September 14, 2019

Kembali Kepada Ulama

3 Tahun lalu saya menulis sebuah tulisan dengan judul “Bahaya di Balik Selogan Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah” dan mendapat respon beragam baik pro maupun kontra. Jika anda penasaran dimana letak bahaya dari ajakan itu silahkan di baca kembali tulisannya. Ini merupakan kelanjutan dari tulisan “Bahaya di Balik Selogan Kembali ke Al Qur’an dan Sunnah” untuk memberikan sedikit jalan kepada ummat Islam bagaimana dia harus bersikap agar bisa selamat di era akhir zaman yang penuh fitnah dan tipu daya ini..

Semangat kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah tanpa di dasari ilmu dan metodologi telah melahirkan orang-orang yang menyebut dirinya ulama tapi miskin ilmu, mengeluarkan fatwa dengan sembarangan sambil mengutip satu dua ayat atau satu dua hadist kemudian dia mengatakan apa yang disampaikan adalah berasal dari Allah dan Rasul-Nya padahal itu hanya sebuah pendapat yang belum tentu benar.

Ayat al-Qur’an yang disampaikannya tentu saja benar karena itu merupakan firman Allah yang kebenarannya tidak akan pernah diragukan lagi oleh orang beriman. Akan tetapi pemahaman dia tentang ayat tersebut terkadang bisa keliru karena langsung mengitup ayat tanpa membuka kitab tafsir yang dikarang ulama atau membuka kitab-kitab klasik berubungan dengan masalah yang disampaikan baik berupa fiqih, tauhid maupun tasawuf.

Prof Abu Khaled Aboe el-Fadl seorang sarjana, pakar, dan dosen Hukum Islam di UCLA (University of California Los Angeles), Amerika Serikat, setelah meneliti ribuan karya-karya ulama klasik (Beliau telah membaca 50.000 kitab karangan ulama) berpendapat untuk bisa mengeluarkan fatwa di dalam bidang agama seseorang harus minumal 20 tahun belajar fiqih baik dari mazhabnya maupun mazhab lain baru boleh mengeluarkan pendapat/fatwa untuk menjadi rujukan ummat.

Bisa dibayangkan betapa kacaunya kalau seseorang hanya membaca al-Qur’an terjemahan kemudian mengutip ayat kemudian mengeluarkan pendapat yang harus di ikuti oleh orang lain. Beginilah fenomena akhir zaman ini sehingga ummat menjadi bingung dengan fatwa-fatwa yang terkadang aneh.

Nabi telah mengingatkan ummat akan bahaya orang-orang yang menafsirkan al Qir’an tanpa di dasarkan ilmu sebagaimana sabda Beliau: “Barang siapa menafsirkan Al Qur’an dengan tanpa ilmu, maka siapkanlah tempatnya di neraka”.

Kekacauan lain dikalangan ummat Islam adalah ketika seseorang belajar ilmu fiqih, mungkin telah menamatkan pendidikan S3 di bidangnya kemudian mengeluarkan pendapat terhadap masalah Tauhid atau Tasawuf, hal yang tidak diketahuinya maka lahirlah fatwa sesat, bid’ah bahkan kafir karena memang dia tidak paham sama sekali. Bertanya kepada ahli fiqih apalagi fiqih ala wahabi tentang tasawuf ibarat memperbaiki jam tangan rusak di bengkel sepeda, bukan bertambah baik jam tersebut tapi bertambah hancur berantakan.

Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi di dalam kitab karya beliau berjudul “Tanwir al-Qulub fi Mu’amallah ‘Allam al-Ghuyub” menguraikan panjang lebar tentang pembagian ulama menjadi 3 golongan berdasarkan ilmu yang ditekuninya yaitu Fiqih, Tauhid dan Tasawuf. Setiap ilmu itu mempunyai imam masing-masing untuk dijadikan rujukan bagi ummat Islam.

Imam Bidang Fiqih

Imam yang menekuni dan mendalami bidang fiqih, menggali dan menetapkan hukum-hukum dari al-Qur’an dan hadis dalam masalah fiqih. Diantara mereka yang paling masyhur adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i dan Imam Hanbali. Mereka semua adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Mengikuti salah satu dari imam yang empat tersebut hukumnya fardhu, berdasarkan firman Allah Ta’ala :

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (Q.S. Yunus 62).

Selain itu juga sabda Rasulullah Muhammad SAW, “Ingatlah, bertanyalah kalian apabila kalian tidak tahu”.

Barangsiapa tidak mengikuti salah satu dari mazhab yang empat dan ia berkata, “Aku beramal menurut al Qur’an dan Sunnah”, seraya mengakui diri paham hukum-hukum dari al Qur’an dan sunnah, dia tidak diterima. Karena dia telah keliru sesat dan menyesatkan.

Terutama di zaman ini, zaman yang penuh dengan kefasikan dan banyak pengakuan yang keliru. Dia telah keliru dan sesat karena telah tampil mengungguli para imam, padahal dia lebih rendah dari pada imam, baik dalam derajat keilmuannya, amalnya, keadilan maupun dalam ketelitiannya. Sebab belum terdengar ada selain dari pada imam itu yang punya ilmu dan keadilan yang lebih unggul atau setingkat dengan mereka. Begitu juga dalam penguasaan ilmu-ilmu bahasa Arab, penguasaan aqwal (ungkapan dan pendapat) para sahabat, ushuluddin, tafsir, hadis dan hal-hal lain yang menjadi syarat-syarat ijtihad.

Imam Abu Hanifah dari kalangan tabi’in, demikian pula Imam Malik. Sedangkan Imam asy-Syafi’i dan Imam Hanbali dari kalangan tabi’it tabi’in. Masa mereka hidup adalah masa orang-orang yang baik. Sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih, “Generasi terbaik adalah generasiku, kemudian mereka yang setelahnya, lalu mereka yang sesudahnya”.

Adanya perbedaan di dalam masalah furu’iyyah (syariat fiqih) tidak menjadi soal, bahkan merupakan rahmat, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW, “Perbedaan pendapat dikalangan ummatku adalah rahmat”. (HR. Al-Baihaqi).



Imam Bidang Tauhid

Imam yang menekuni dan menjelaskan masalah-masalah ushuluddin (ketauhidan) diantara mereka adalah al-Asy’ari (Abu Hasan al-Asy’ari) dan al-Muturidi (Abu Mansur al-Mutudiri). Mereka menetapkan dalil aqli dan dalil naqli untuk menjelaskan masalah-masalah tersebut, dan mereka telah berhasil menolak ketidakjelasan yang muncul dari orang-orang yang berkeyakinan sesat. Dikalangan Sunni, kedua imam ini menjadi rujukan dalam bidang tauhid dari sejak awal sampai saat ini.

Disamping Imam al-Asy’ari dan Muturidi yang membawa paham ahlussunah wal jamaah, juga terdapat 7 aliran bidang tauhid yang salah satu diantara yang besar selain sunni adalah syiah yang juga mempunyai imam tersendiri dalam bidang tauhid yang dijadikan ikutan.



Imam Bidang Tasawuf

Imam di bidang tasawuf adalah orang yang menekuni pembersihan hati dan jiwa dari kotoran-kotoran batin dan penyakit-penyakit hati seperti sombong dan hasad. Mereka mewajibkan mukallaf agar menjaga kebersihan hati dan anggota badan dari semua hal yang tidak disukai, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Pada hari dimana harta dan anak-anak tidak membawa manfaat, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (Q.S Asy-Syu’ara’, 88) Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya”. (Q.S Al-Isra’, 36).

Mereka yang menjadi imam di bidang tasawuf ini diantaranya adalah Abu Yazid al-Busthami, asy-Syaikh ‘Abdul Khaliq al-Fadjuani, as-Sayyid Muhammad Bahauddin an-Naqsyabandi, asy-Syaikh Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi, al-Junaidi al-Baghdadi, Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali, asy-Syaikh as-Suhrawardi, Makruf al-Karki, Asy-Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani dan lainya.

Mereka adalah para sufi, demikian pula orang-orang yang mengikuti mereka menjalankan kewajiban bertaqwa kepada Allah di dalam kesendirian maupun di dalam keramaian. Para imam sufi ini berada dalam petunjuk Allah Ta’ala sebagaimana hal nya imam-imam fiqih. Mereka mendasari ajaran mereka dengan akidah Ahlus-sunnah wal-Jamaah dan fiqih Imam Mujtahid. Karena itu semua imam sufi itu juga ahli fiqih.

Setelah kita mengetahui akan pembagian Imam dalam bidang masing-masing maka setiap pertanyaan yang diajukan atau setiap masalah yang didapat harus merujuk kepada 3 jenis ilmu di atas dengan kitab-kitab masing-masing yang sudah banyak di karang baik langsung oleh Imam nya maupun orang-orang setelahnya.

Islam, Iman dan Ihsan merupakan landasan utama dalam memahami Agama Islam yang sempurna ini. Islam dijelaskan lewat fiqih, Iman dijelaskan lewat tauhid sedangkan ihsan yang sangat halus harus dijelaskan lewat ilmu tasawuf.

Saya mengambil contoh sangat sederhana adalah ‘Iktikaf. Secara fiqih berdasarkan hadist dijelaskan tata cara ‘Iktikaf yang dilakukan di mesjid berdasarkan apa yang di praktekkan oleh Nabi. Namun untuk menjalankan ‘Iktikaf dengan sebenarnya tidak cukup dengan fiqih (tata cara). Para pengamal tasawuf melaksanakan ‘iktikaf dengan bimbingan Imamnya yaitu Guru Mursyidnya, dan mereka sering menyebut ‘Iktikaf dengan suluk atau berkhalwat. Jadi ‘Iktikaf di dalam bidang tasawuf bukan sekedar badan berdiam di mesjid tapi hati juga harus berdiam (wuquf qalbi) untuk senantiasa mengingat Allah.

Fiqih menjelaskan kepada kita tentang tata cara melaksanakan shalat (rukun 13) sedangkan khusyuk tidak bisa di dapat hanya dengan fiqih, tapi harus lewat ilmu tasawuf yang di praktekkan dengan medotologi warisan Nabi (Tarekatullah) sehingga siapapun yang melaksanakan shalat akan mendapatkan khusuk. Tanpa khusyuk maka shalat akan tertolak, kalau shalat tertolak maka seluruh amalan lain tertolak. Makanya belajar ilmu tasawuf itu wajib agar ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Maka kembalilah kita kepada para ulama sesuai dengan bidang masing-masing, bertanyalah kepada mereka sesuai dengan ilmunya (Fiqih, Tauhid, Tasawuf) agar kita semua bisa selamat dari dunia sampai akhirat kelak. Seorang Guru Mursyid walaupun Beliau ahli bidang tasawuf tentu saja juga ahli bidang ilmu tauhid dan mengetahui tentang ilmu fiqih, bertanyalah kepada Beliau. Beliau juga yang disebutkan di dalam al-Qur’an sebagai ahli Dzikir tempat kita semua bertanya, tempat semua kia mengembalikan setiap persoalan di dalam bidang agama sebagaimana firman Allah :

“…Bertanyalah kepada Ahli Zikir (Ulama) jika kamu tidak mengetahui” [An Nahl 43]

Share this:
WhatsAppTelegramFacebookTwitterSurat elektronikLinkedInPrint

Terkait
Pentingnya Ilmu Tasawuf (2)
dalam "Tasauf"
Bahaya di Balik slogan "Kembali ke al-Qur'an dan Sunnah"
dalam "Pemikiran"
BILA AKU CERITAKAN NISCAYA HALAL DARAHKU
dalam "Tasauf"
April 21, 201820 Balasan
« Sebelumnya
Berikutnya »
Tinggalkan Balasan
Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar

Nama *

Surel *

Situs Web

  Beri tahu saya komentar baru melalui email.

 Beritahu saya pos-pos baru lewat surat elektronik.

ewin win pada April 21, 2018 pukul 9:34 am
Assalamualaikum wr.wb.abangda ini sy erwin yang ngirim email..abangda sya tggl dicilodong depok jwa barat,abangda mhon doanya jg bwt sy agar dimudahkn dan dilancarkn hajat dan rizqi..

Balas
Ruslianto pada April 27, 2018 pukul 2:01 pm
Perjalanan Spiritual Sang Mujaddid (Pembaharu)-Bagian (1)
Syekh Ahmad dilahirkan di Sirhind,(Kini Negara bagian Punjabi) pada hari Jum’at 4 Syawal 971 H (26 Mei 1564 M) Berasal dari keluarga dengan tradisi pendidikan yang panjang, selain hapal Qur’an sejak kecil Beliau belajar ilmu Logika, filsafat dan ilmu kalam (teologi) dari Mullah Kamal Khasmiri (yg dikenal sbg pengikut mazhab rasional), Kemudian belajar ilmu hadits pd Syekh Ya’kub Sharfi, dan Beliau juga pada masa mudanya (tsb) seorang pemulis sarah (komentar) Shahih Bukhari, serta dikelompokkan sbg angota Sufi orde Kubrawiyah , selebihnya belajar tafsir dan hadis pada Qadi Bahdlul Badakhshani. Sirhindi berhasil menyelesaikan pada usia 17 tahun, dan kemudian kembali kepangkuan orangtuanya di Sirhind. TIGA TAHUN kemudian pergi ke Agra ibukota kekaisaran Mughal yang agung dgn Kaisarnya Akbar (1014 – 1605M) masa itu Beliau sering melakukan dialog/diskusi dengan tokoh dan ulama dilingkungan kerajaan, diantara TERDAPAT kendala dengan seorang (Abul Fadhl) yang berpafam percaya pada Allah tapi mengabaikan keniscyaan nubuwwat , mengabaikan kemungkinan kerasulan, dan juga menganggap ibadah sebagai wujud kemunafikan , serta memandang semua agama sama jeleknya dan melihat keyakinan dari segi akal semata. Sirhindi mencatat keadaan demikian dalam catatannya :”manusia di zamanku masih mempertanyakan masalah nubuwwat , mengabaikan kemungkinan kerasulan , dan menolak mengikuti syariah.( pada mahkamah kerajaan masih ada orang-orang seperti ini), Kecenderungan ini meluas di kalangan orang banyak , dan mereka memegang kendali kuasa memburu ulama dan kemudian menyiksanya dengan berbagai cara yang aku tak mau menceritakannaya kembali , padahal para ulama tersebut , mengaku mengikuti syariah yang dibawa Rasul SAW dan mempercayai Rasul sebagai utusannya ( berbuat zholim tapi mengaku bersyariah Nabi Muhammad SAW) Catatan ini dikutip (dalam): “Sirhindi, itsbat ‘l-nubuwah “ -Ghulam Mustafa Khan,Karaci, 1383 A.H,..halaman 6.
Dalam sebuah diskusi dengan Abul Fadhl – Sirhindi mengadu gagasan-gagasannya, khususnya tentang nubuwwat suasana diskusi tak terkendali (lepas control) malah suasana mencaci ulama islam, Sihirhindi amat terkejut dan kemudian memutus hubungan dengannya (Abul Fadhl). Ketika mendengar kekecewaan Sirhindi – Ayahnya (Syeikh Abdul Ahad) menyusul ke Agra membawa Sirhindi PULANG , DIbawah arahan ayahnya Sirhindi mempelajari kitab-kitab tasawuf , seperti Ta’arruf dari al-Kalabadzi (Wafat 390/1000M) , ‘Awarif dari al-Suhrawardi (Wafat 632/1234) dan “Fushush dari Ibnu al-‘Arabi (Wafat 638H/1240M). Sedangkan Sang Ayah (Syeikh Abdul Ahad) pada usia mudanya telah di bai’at oleh seorang Wali Chishti terkenal, Syeikh Abdul Quddus – yang terkenal dengan “ekstasenya”, dan juga keyakinan akan “wahdat al-wujud, tapi justru syeikh (ini) menasehati nya agar mempelajari “syariah” dan “Hadits” terlebih dahulu,… Sirhindi menulis tentang ayahnya satu diantara kitabnya :”Kanz al Haqa-‘iq .
Jadi , Syeikh Ahmad Sirhindi pada awalnya belajar metode Sufi (thariqah) dari ayahnya, dan kemudian melakukan suluk (jalan pembinaan sufi) juga melalui ayahnya; “ Saya mendapat “nisbah Fardhiyah” dari ayahku yang mendapatkannya dari sufi terkenal”, kataNya. Beliau juga mengalami “ekstase” yang insten, serta mempunyai karomah yang terkenal ,…. Saya juga mengembangkan perasaan untuk amal-amal mulia (nawafil) , khusus shalat Nafl, dari ayahku , yang Ia mendapatkannya dari para gurunya para wali Chishti yang suci. (Catatan Sirhindi pada karyanya ; Mabda wa Ma’ad-halaman 4)….
Syaidi Syeikh Ahmad Al Faruqi as Sirhindi QS adalah untaian kemilau cahaya sebagai ulama Mujaddid, dalam buhul-buhul tali Allah silsilah ke 25 Thariqah Naqsyabandi .
Tunggu,.. Kisah Pertemuan dengan Khawajah Sayidi Syeikh Muayyiddudin Mohammad Abdul al Baqi Billah QS (971H/1563M-1012H/1603M) Silsilah ke-24 TN… Lalu apa materi “perubahan” yang dilakukan Syeikh Ahmad Sirhindi maka Beliau juga disebut disebut sebagai “mujaddid”,…. Karena Beliau yang pertama memperkenalkan Faham (ilmu) WAHDAT AL-SYUHUD pada saat lingkungannya tempat dan wilayah intens dengan faham WAHDAT AL WUJUD,yang dikemukakan oleh Ibnu al-Arabi dan ada kritikan beliau dengan paham tersebut,……. Bersambung, Insya-Allah jika (saya) mendapat izin.
Demikian dulu -Smoga bermanfaat. Wassalam.

Balas
SufiMuda pada April 27, 2018 pukul 4:49 pm
Terimakasih Abangda atas Manaqib dari Syekh Ahmad Sirhundi yg merupakan salah satu ahli silsilah dalam Tarekat Naqsyabandiah al Khalidiyah

Balas
Dimas pada April 30, 2018 pukul 11:03 am
Assalamualaikum

Balas
Dimas pada April 30, 2018 pukul 11:22 am
Assalamualaikum wr wb bang sufimuda, saya mau menanyakan beberapa Hal yg membuat saya kdng bertanya2, sudah 2 tahun ini saya kembali ke jln Allah dan menekuni dzikir (Dari sblmnya jrng sholat), saya mndpt ijazah wirid dari guru/kyai saya setiap hari alhamdulillah saya mampu menyelasaikannya itupun dgn cara saya cicil dari selesai sholat subuh, kemudian saya selesaikan di sholat asharnya, yg jd pertanyaan ketika saya beraktifitas wiridan tak jarang fikiran saya melayang kmn2, mulut saya bertasbih menganggungkan asma Allah tp fikiran saya sering kemana2, apa saya berdosa bang sufi muda dgn fikiran saya? Lalu bgmn caranya agar kita benar2 fokus dlm berwirid?? Pertanyaan kedua adlh semenjak saya bertobat dan kembali sholat sering sekali tiba2 ada seorang seperti laki2 tinggi besar memakai jubah putih2 bajunya mirip yg dipakai habib luthfi tetapi wajahnya tidak begitu terlihat, ketika org tsb datang tiba2 ayam tetangga berkokok saut2 an disekitar rumah,orang tsb memang tdk tampak secara jasad tetapi seperti terlihat di dalam benak(enth bingung saya jelasin detailnya) sering sekali org tsb membisikkan ke batin saya” ayo teruskan dimas,Allah menyukai usaha2mu” org tersebut ciri2 nya adalh tidak punya ekspresi sama sekali, datang dan pergi sesukanya,sering sekali menyuruh saya melakukan amalan ini itu, menyuruh segera sholat dzikir, melarang saya utk menjaga pandangan dr lawan jenis,dan dari perbuatan dzalim, dan sering sekali menemani saya berpergian,orang2 tsb saya sndiri tidak tahu siapa, apakah mereka malaikat bang sufimuda? Apa mgkn org yg banyak dosa kyk saya ini didatangi utusan Tuhan yg suci? Saya sendiri tdk pernah menanti kedatangan mereka, tau2 mereka datang terlebih saat saya beraktifitas ibadah. Mohon pencerahannya terimas kasih Wassalamualaikum wr wb

Balas
SufiMuda pada Mei 1, 2018 pukul 10:45 am
Seorang salik melewati 3 alam : Jabarut, Malakut dan Rabbani. Hanya di alam Rabbani seseorang bisa tenang berdzikir, alam dibawahnya penuh khayalan.
Harus melewati 3 kali suluk.

Tentang sosok yang datang di dalam dzikir anda itu silahkan ditanyakan ke Guru nya biar dapat jawaban yang pasti

Balas
Bustomi Ar rasyid pada April 28, 2018 pukul 1:39 pm
Assalamualaikum bang SM , saya mau bertanya dan mohon dijawab, kalau boleh tau siapa guru Mursyid bang SM ? Mohon maaf kalau pertanyaan agak personal Abang. Karena orang tua saya menyuruh saya mempertanyakan nya.

Balas
Bustomi Ar rasyid pada April 28, 2018 pukul 11:35 pm
Assalamualaikum bang SM ,maap jika memang pertanyaan saya terlalu personal, jawaban Abang bisa dikirim lewat surel saya. Sekali lagi saya mohon maap kalau content saya mengganggu Abang.

Balas
Andre pada April 29, 2018 pukul 11:03 pm
Terima kasih, saya sudah membaca tulisan abangda..

Balas
Bustomi Ar rasyid pada Mei 4, 2018 pukul 12:04 pm
Bener banget bang Sm jaman sekarang banyak orang yg menyerukan kembali ke Alquran Dan sunah, dengan mentakfirkan sesama muslim, memang sudah sampai alam mana orang yg mentakfirkan berzikir sampai begitu yakin dengan menunjuk orang lain sesat,kafir,munafik? Bukankah yg memberikan cap kafir,sesat , munafik hanya Allah SWT. kenapa orang begitu beraninya mengambil kuasa Allah yg mutlak dalam memberikan status kepada manusia.

Balas
Ruslianto pada Mei 6, 2018 pukul 8:39 am
Melempangkan Persepsi
Saya minta izin untuk mengomentari kasus yang dialami oleh Sdr.Dimas yg menurut hemat saya , pernah mengamati hal serupa dan melempangkan persepsi atas kasus dimaksud, dan insya Allah sama-sama kita dapatkan solusinya sebagai berikut ;
1. Sebelumnya saya dimaafkan hendaknya oleh Sdr.Dimas bahwa apa yg beliau alami tsb, tidak ada hubungannya dengan ilmu thareqat dan ia ini bukanlah penganut ilmu thareqat,… wirid yang ia dapatkan dari gurunya (itu) merupakan bacaan-bacaan (rapalan-rapalan) tertentu (Bukan Wiridan atau Tawajuh dalam Thareqat) dan karena mungkin fasehnya Sdr.Dimas mengamalkan rapalan “wirid” tersebut ia mendapatkan ijazah dari Gurunya yang katanya seorang Kiyai, Saya sepertinya yakin bahwa Guru atau Kiyai yang dimaksud Sdr.Dimas bukanlah seorang Mursyid atau Yang dikenal sebagai Guru Rohani –insan Kamil Mukamil bagi Pengamal Thareqat (coba simak lagi tulisan Sdr.Dimas diatas) ;
2. Pertanyaan saya (Kata Sdr.Dimas), “Jika beraktifitas wiridan tak jarang pikiran saya melayang kemana2 , mulut saya bertasbih mengagungkan asma Allah tapi fikiran saya kemana2,….” Nah jelas,.. bukan bahwa dimaksud wiridan Sdr.Dimas bukan seperti wirid (nya) seorang “pengamal thareqat”. Mengapa ? Karena wirid dan tawajuhnya pengamal thareqat , tak-lah pake mulut tak-lah bertasbih, tak-lah dengan jahr maupun sir, (Pengamal tareqat sebelum ber-tawajuh mengharapkan agar dihilangkan was-was dari segala penjuru), Saya bersama blog Sufi Muda ini boleh dikatakan “sudah lama juga” jadi maksudnya saya faham betul yang ikut berkomentar disini, yg berasal dari berbagai elemen (baik itu) dari pengamal thareqat ada yg dari anti thareqat, dan ada sekedar (suka) dgn ilmu tasawwuf , ada yg hanya sekedar numpang lewat dan ada pula gandrung dengan ilmu isim-isim (kebathinan) dll. Jadi tak aneh (juga) bagi saya jika Sdr.Dimas (ini) memanggil dgn kata “bang” kpd Abangda SM karena bagi beliau itu kata “bang” itu mirip (seperti) kata Abang dan None Jakarte (saja) atau istilah “bang” bagi orang Medan untuk panggilan senioren(usia yg lebih tua), karena saya pastikan bahwa sdr.Dimas (ini) jauh lebih muda (usianya) dari Abangda SM. Dan tak faham arti “Abangda” dalam adab pengamal thareqat, apalagi makna Salik dan Suluk.
3. Ada bisikkan bayangan sosok memakai jubah putih yg dianggap malaikat, orang suci, (pula) berkata teruskan usaha yang baik karena sholat (lagi) karena sebelum tampa sebab Sdr,Dimas meninggalkan sholat, … O,..Maaf itu bukanlah Malaikat atau orang suci,…persepsi ini harus diluruskan juga – karena itulah adalah “Qorin” yaitu sebangsa jin (mungkin dah masuk islam) – Qorin mungkin dikirim oleh Kiyai atau Guru ke Sdr.Dimas (karena udah dpt ijazah kok enggak sholat-sholat) atau Qorin yg sudah “non job” (pengangguran) karena tugas mendampingi manusia – dan manusia nya sudah berpulang ke rahmatullah, (karena umur Qorin(nya) itu lebih panjang) bisa saja itu dari Qorin dari Leluhurnya (kakeknya) dulu seorang alim maka Qorinnya(pun) sudah terbiasa dan senang dengan amalan amalan sholihin ,… dan sekarang (ini) mendatangi cucu dan cicitnya. Allhu-a’lam bissowab.
4. Solusinya ia (Sdr.Dimas) disarankan “bertanya” kepada Pak Kiyai atau Gurunya memberikan rapalan-rapalan tasbih dan dzikir yg mendapatkan ijazah karena itu,.. sekiranya (maaf) Kiyai(nya) sudah berpulang segera cari senior seperguruan, jangan jangan senior juga mengalami hal yang sama. Tentang adanya Qorin yang selalu mendampingi manusia tercantum dalam Al Qur’an :QS.Az-Zukhruf ayat 36 : Wa may ya’syu’an zikrir-rahmaani nuqayyid lahuu syaitaanan fa huwa lahuu Qorin.
Artinya: Barang siapa yang berpaling dari berdzikir (mengingat,menyebut ALLAH), Kami turunkan kepadanya seekor setan , maka setan itulah yang menjadi teman terus menerus mendampinginya (menyertai) kemanapun ia berada.
####### ia berdzikir namun TIDAK dengan metode thareqat #########
Demikian sedikit upaya untuk melempang persepsi, tentang kasus yg dialami Sdr.Dimas,…mohon maaf sekali lagi kpd beliau, sMOGA bermanfaat. Wassalam.

Balas
Ruslianto pada Mei 8, 2018 pukul 12:21 pm
Perjalanan Spritual Sang Mujaddid (Pembaharu)-Bagian (2).
Setelah Syeikh Abdul Ahad (ayah Syeikh Ahmad) wafat pada 1007H, Syeikh Ahmad menunuaikan ibadah haji dalam perjalanannya di Delhi, Beliau dikenalkan pada Khwajah Abdul Baqi (Sayyidi Syeikh Muayyiduddin Mohammad Baqi Billah QS) merupakan Wali pertama Naqsyabandi yg baru tiba di India, Naqsyabandi (sudah) dikenal dikalangan pengamal thareqat waktu itu sebagai pemeluk syariah yg taat, terutama dalam suluknya . Khwajah Abdul Baqi, biasa dikenal sebagai Baqi Billah , baru datang ke Delhi beberapa bulan berselang , tapi dalam waktu singkat ia sudah sedemikian dikenal.Ia membujuk Ahmad Sirhindi untuk meluangkan sedikit waktu bersamanya . Dalam beberapa hari Sirhindi merasa tertarik dan kemudian ia mengucapkan bai’at – dan waktu singkat , sekitar dua setengah bulan ia mendapat nisbat Naqsyabandi, dan mencapai fana’i-haqiqi, (real self-anni-hilation),atau penyatuan mutlak (jam’al-jam)-Sirhindi meneruskan suluknya hingga mencapai tahapan pemisahan-pasca-bersatu (farba’da al-jam’) –Yang Khwajah Baqi Billah menyebutnya sebagai puncak prestasi manusia, serta “tahap kesempurnaan” maqam-i-takmil), Khwajah sangat tercengang oleh prestasi luar biasa muridnya ini, dalam sebuah surat pada sahabatnya ia menulis :
“Seorang dari Sirhindi ,bernama Ahmad Sirhindi, baru-baru ini telah datang , Ia sangat kuat belajar, dan memiliki kekuatan rohani amat besar .Ia telah tinggal bersamaku selama beberapa hari atas dasar apa yang kuamati selama beberapa hari bersamanya , kuharapkan agar di kemudian hari, ia mampu menjadi lampu yang menerangi dunia” (Nadwi,S.A ‘Ali Tarikh Da’wat,Vol-IV,Hal-150,151; Muhammad Hasan ,Maqamat imam Rabbani ,Mujaddid Alf Thani-hal.9)
Sirhindi telah merinci pengalaman rohaninya dengan singkat, tetapi pada kesempatan lain cukup rinci, berikut ini adalah catatan dari pengalaman pertamanya :
Saya meyakini tauhid wujudi (maksudnya wahdatul wujud) sejak masih kanak-kanak, Ayahku adalah penganut doktrin tersebut, dan biasa menjalankan latihan rohaniah berdasar garis wujudi. Tetapi disamping itu ia juga mampu “menjaga pribadi rohaninya” (al-akhfa) yakni keadaan tak terbatas (martabah bi khaif) .Seperti kata orang , bahwa anak seorang ahli hukum adalah setengah ahli hukum.Maka akupun mengetahui doktrin tersebut dengan baiknya, mengapresiasi dan juga menghayatinya. Kemudian , ketika Allah mengantarkanku pada Syeikh Baqi Billah , dan kemudian mengajariku thariqah Naqsyabandi, dan kemudian mengawasi perkembanganku, maka Kesatuan Dzat (tauhidwujudi) “ juga segera merasuk ke dalam diriku”-Akupun segera mengikuti thariqah Naqsyabandi . Aku sepenuhnya terserap ke dalam pengalaman tersebut., dan gagasan-gagasan yang menyertainya pun segera “memenuhi diriku”. Ada pengalaman sulit yang tak ter-ilhamkan kepadaku – (Sebelumnya) Aku diperkenalkan dgn gagasan yg kuat dari Syeikh Muhyiddin ibnu al’’Arabi, dan mendapat karunia pengalaman tentang swa-iluminasi Ilahiah (tajali dzat),- Aku juga berupaya memahami rinci kebenaran dari tajjali , yang Syeikh menganggap bahwa hal tersebut hanya privilese dari para “Penghulu aulia” –aku amat terlarut dalam tauhid tersebut , dan amat “mabuk” dengannya, sehingga ada beberapa kuplet kukirim suratku, kepada Khwajah Syeikh Baqi Billah.
Bersambung,….dan Demikian dulu, akan dilanjutkan insya-Allah jika saya mendapat izin, sMOGA bermanfaat. Salam ta’zhim khusus buat Abangda Sufi Muda dan Abangda Arkana- Wassalam.

Balas
Ruslianto pada Mei 31, 2018 pukul 4:40 pm
Perjalanan Spritual Sang Mujaddid (Pembaharu)-Bagian (3).
Dalam tahap awal suluk(nya) efek ‘ekstase’ (tawhid wujudi/wahdat-al-wujud) masih membaur, dan dalam hal ini Syekh Ahmad terus berhubungan dalam lisan dan tulisan untuk melaporkan perkembangan rohaninya dan pada permulaannya Beliau mengirim kata shath-shath-nya dalam empat kuatrain (bait) kepada Syeikh Baqi Billah, ketika tengah melewati taraf tawhid wujudi. namun Sang Guru menampiknya , pada surat balasannya yang menegur Sirhindi pada kuatrain tersebut; “Dan kuatrain yang telah kau tulis adalah bodoh dan omong kosong . Penulisnya tidak akan diberkahi Allah .Kau sedemikian rendah dihadapan Tuhan ,Dia yang Mulia dan Maha Halus”. Memperhatikan hal ini dapat(lah) keragaman atas pendapat para penulis tentang Kisah Perjalanan Seorang Sufi menuju Tuhannya, bahwa Sufi sejati pada beberapa tahap suluknya harus mempercayai tawhid wujudi atau berbicara “shath”. Pengalaman keterpaduan adalah dasar yang penting untuk thariqah sufi; TETAPI percaya pada wah-dat’l-wujud atau mengeluarkan shath BUKANLAH bagian dari Sufisme.
Dalam istilah metafisikal Sirhindi menandai TIGA TAHAPAN pengalamannya, yakni: Kesatuan Dzat (tauhid wujudi/wahdat-al-wujud) *) pada saat berba’iat Tangan Allah diatas tanganmu; Bukan engkau yang melempar saat engkau melempar tetapi Allah Yang Melempar; ……Bayangan (dzillliyyat) **), Dimana pun engkau memandang disitu ada Wajah Allah dan Keabadian(‘abdiyat)***),……Semua yang diciptakan dan dijadikan dipastikan musnah kecuali Allah,…. Dalam bahasa mistik yang murni , hal tersebut menggambarkan tahapan persatuan (jam’), atau tahapan tidak berbeda ( jam’ al-jam’)-pemisahan sesudah bersatu (farq ba’da al-jam’) Dua yang pertama biasa dialami secara luas oleh para sufi , tetapi yang terakhir tidaklah biasa,atau bahkan sangat jarang.Sirhindi menyebut tahap-tahap ini berulangkali (Sirhindi-Maktubat,..)…dengan dua alasan Sirhindi ingin mengembalikan mistik di zamannya, yg sebagian besar bertolak dari tahap pertama dan kemudian berhenti pada yang kedua, padahal masih ada tahapan yg lebih tinggi dibanding penghentian tersebut, yang mana pada saat tsb biasanya mereka akan melihat bahwa manusia menyatu dengan Tuhan, atau bahwa dunia dan Tuhan adalah zat yang satu , PADAHAL sebenarnya Tuhan amat berbeda dan mutlak,bahwa dunia bukan sesuatu yang pantas bersama-Nya dan bahwa manusia hanya makhluk-Nya yang sederhana , semata-mata hanya hamba-Nya,
Syekh Ahmad ingin menggarisbawahi bahwa kebenaran dan keluhuran Tuhan yang mutlak bukanlah sekedar masalah iman sebagaimana yang diyakini umum, atau sekedar kesimpulan intelektual sebagaimana yang dilakukan kaum mutakallimin (ahli teologie), melainkan merupakan fakta yang ditemukan lewat pengalaman (pribadi).yang diperoleh lewat kehendak dan pengharapan.
Silsilah bukan hanya berkembang di India. Tetapi juga berkembang hingga ke Afghanistan dan Turkistan, tanah asal-usulnya para wali Naqsyabandi, serta sampai Tabristan dan Iran, Sirhindi mengirimkan pembatunya (khulafa’) ke Shadman (isphahan),Husayn Abdal (Kabul),Khisam, Berk (dekat Kandahar) dan Beliau sendiri secara terus menerus menjaga hubungan dgn para wakilnya dan dari mereka dan surat-suratnya dapat diketahui langsung masalah-masalah yang ditanyakan orang tentang thareqah. Serta pada mereka (wakilnya tsb) kemudian diberikan jawaban dalam bentuk nasehat dan perintah-perintah.(maktubat, Sirhindi-Vol.I.131.
(Bersambung,…Insya Allah).

Balas
Ruslianto pada Juni 25, 2018 pukul 1:27 pm
Perjalanan Spritual Sang Mujaddid (Pembaharu)-Bagian (4).

Dalam untaian suratnya kepada wakil-wakilnya diberbagai wilayah itulah terungkap perjalanan spiritual Sang Syeikh Ahmad-yang menyebut hal-hal khas Naqsyabandi , yang secara ketat berpegang langsung pada sunnah, Misalnya saja; tidak dikenal adanya acara musik (sama’)-atau tarian darwisy (raqsh), atau pula dzikir dengan suara keras ; yang lebih dipraktekkan adalah tentang kesederhanaan dan latihan sungguh-sungguh, serta sikap pertengahan dalam hal makan ,minum,tidur , serta berpakaian . Juga kurang dipentingkan adalah : ekstase (wajd),penglihatan (musyahadah),dan iluminasi (tajalli) – juga pernyataan2 dlm keadaan ektase (Shath-hat)-Yang lebih dipentingkan adalah pengilhaman mistikal (maksyufat) terhadap doktrin-doktrin Syar’i , Beliau berpegang ketat pada tujuan tasawwuf , yang bukan menyatu dengan Tuhannya , atau berpartisipasi pada dalam sifat Tuhan, melainkan semata-mata hanya berserah diri pada Syariah dan menyakini diri seyakin-yakinnya sebagai abdi Allah.

Penyebaran thareqah Naqsyabandi dan penyucian jiwa, betapapun pentingnya namun bagi Sirhindi hanyalah merupakan sebahagian dari tugas yang ingin ia pikul – seperti dalam ungkapannya dalam surat-surat pada wakil dan murid-muridnya “Aku diciptakan (oleh Allah, maksud Beliau;) sebagai pengarah menuju kesempurnaan jiwa dan diri orang banyak, Tujuan penciptaanku adalah lain , oleh sebab itu aku memiliki misi yang berbeda pula” (dikutip dalam ibid,..Vol.II),,,saat kutulis seperti ini, merinding sekujur tubuh ini seakan Guruku ada dihadapanku,…Allahu Akbar,Allahu Akabar Walillahi-ilhamd.

Syeikh Ahmad tidak hanya dipandang pada dirinya lebih dari sekedar wali, Ia adalah pembaharu (mujaddid), yang ditugaskan untuk membangkitkan islam di peralihan seribu tahun yang kedua.(ibid Vol.I).Walau tidak dijabarkan ,tetapi tidak ada keraguan bahwa Beliau memiliki konsepsi yang amat jelas tentang misi yang diembannya adalah mengkritik kaum kafir, bid’ah, dan berbagai doktrin yang salah, serta meneguhkan kembali nubuwwah (keyakinan akan Rasul), beriman akan wahyu dan agama yang dibawa Rasul serta mendorong kebajikan , kesalehan dan kepatuhan pada sunnah ; menentang kekuatan2 anti islam,serta menjaga lembaga2 dan hukum Islam. Beliau juga menulis pernyataan2 dan beberapa kitab.
Kehidupan ummat islam di India kala itu banyak diwarnai oleh syirik dan bid’ah, terutama disebabkan oleh kontak dengan kepercayaan politeistik yang hidup di India. Karena kebodohan dan kelemahan iman(nya), tidak jarang ummat islam di India ikut dalam kegiatan peribadatan non muslim (Sirhindi dalam Maktubat Vol.I-266) .
Catatan pada Vol.I (halaman 260-263) :
Telah kuterima suratmu (berupa sebuah surat ttg pertanyaan dari wakilnya/muridnya) ; yang berisi beberapa pertanyaan, biasanya pertanyaan berkisar tentang takabur dan perasangka yang memang tidak memerlukan jawaban, Tetapi pertanyaanmu kali ini aku tidak mengabaikannya , dan mencoba menjawab , Apabila (jawaban ini) tidak memberikan kemanfaatan bagi seseorang (yang mungkin belum terbuka hijab) , mudah-mudahan ada manfaatnya bagi yang yang lain,…. Pertanyaan Pertama kalian adalah ; “Bagaimana Sufi pada masa permulaan menunjukkan berbagai keajaiban, sedangkan dimasa kini sukar sekali ?” Apabila dengan pertanyaan ini kalian hendak menafikan keutamaan sufi masa kini , karena mereka hanya memiliki sedikit keajaiban, seperti yang muncul dari pertanyaanmu , maka semoga Allah menyelamatan kita dari bisikan setan.

Sekilas info : Jabal Qubays apakah Jabal Hindi ? Fatwa Ayahanda Dengan terang menderang menyatakan Bahwa Thareqah yang Ayahanda emban adalah jalur Jabal Qubays.

(Bersambung,..insya Allah)

Balas
Ruslianto pada Juni 25, 2018 pukul 1:30 pm
Perjalanan Spritual Sang Mujaddid (Pembaharu)-Bagian (5).

”Apabila dengan pertanyaan ini kalian hendak menafikan keutamaan sufi masa kini , karena mereka hanya memiliki sedikit keajaiban, seperti yang muncul dari pertanyaanmu , maka semoga Allah menyelamatan kita dari bisikan setan.
Keajaiban bukanlah bagian dari walayat, atau juga bukan merupakan syarat kewalian; ia hanya merupakan bagian dari nubuwwah, Walau kadangkala keajaiban terjadi pada seorang Wali, dan ini merupakan sepengetahuan secara umum, dan memang sukar bagi seorang Wali yang tidak memiliki keajaiban Tetapi sejumlah keajaiban bukanlah bukti status wali, yang sepenuhnya tergantung pada derajat kedekatannya pada Allah SWT.

Dan setiap orang mengetahui bahwa kebesaran seorang Wali tidak dapat dibandingkan dengan keluhuran seorang sahabat yang paling kecil sekalipun – Menitikberatkan keajaiban adalah bukti ketidakmampuan seseorang untuk melihat (kebenaran) dan mengikutinya dengan penuh keimanan. Mereka yang mampu mengambil manfaat dari ajaran Rasul dan para wali adalah mereka yang memiliki kemampuan lebih besar untuk mengikuti (kebenaran) ketimbang kemampuan untuk menguji secara teoritis.

Abu Bakar Ash Shidiq r.a tidak memerlukan alasan panjang untuk menerima seruan Rasul SAW , karena ia memiliki kekuatan besar untuk mengikuti (kebenaran), Sebaliknya, Abu Jahal TIDAK memiliki kemampuan ini. Akibatnya ia tidak mampu membenarkan seruan Rasul SAW, kendati ia melihat berbagai keajaiban dan mukjijat – Mereka yang celaka ini seperti yang difirmankan Allah “Bahkan apabila melihat seluruh tanda mereka tidak akan mampu percaya, Mereka telah menjadi sedemikian membeku dan mereka akan selalu menentangmu. Mereka menganggap bahwa Qur’an tiada lain adalah legenda dari orang-orang terdahulu.(Qur’an Srh.Al An’am -25)
Bolehkah aku menambahkan lima atau enam keajaiban dari para wali terdahulu, Junaid (Al Junaid bin Muhammad bin al Junaid abu Qasim al-Qawariri al Khazzaz al Nahawandi al Baghdadi al Syafi’i) adalah termasuk panutan kaum sufi , tetapi kita belum pernah mendengar laporan yang menyatakan bahwa dirinya memiliki sepuluh keajaiban, Tentang Nabi Musa a.s – Allah berfirman ; “Sungguh Kami memberikan Musa Sembilan tanda yang nyata “ (Qur’an Srh.Al-Israa -101.) Lebih jauh, bagaimana kalian mengetahui bahwa para sufi masa kini tidak memiliki keajaiban ?, Dalam kenyataannya, para Wali Allah dimasa lampau atau masa kini , selalu menunjukkan keajaibannya setiap waktu, baik diketahui manusia lain atau tidak. Matahari memang tidak akan menyilaukan mereka yang tidak mampu melihat.

(Bersambung insya Allah),….

Balas
Evan pada Juli 17, 2018 pukul 1:51 pm
Bang….saya mau tanya….saya tidak pernah lagi tawajuh disurau….karena surau tidak ada di daerah saya….bolehkah saya wiridan dirumah saja….mohon jawabannya….terima kasih

Balas
SufiMuda pada Juli 21, 2018 pukul 11:34 am
boleh

Balas
Ruslianto pada Juli 21, 2018 pukul 10:42 pm
Perjalanan Spritual Sang Mujaddid (Pembaharu)-Bagian (6).
Sufisme dan syariah,….Para pakar modern diawali pada abad 19 banyak ‘kalangan pemerhati islam’, berbeda pendapat hubungan antara Sufisme dengan ajaran islam, sebagian berpendapat bahwa sufisme adalah perkembangan eksotik, dan sebagian jejaknya merupakan unsur dari sumber asing atau yang lain. Misalnya “mereka” dianggap mewarisi asketisme (kepertapaan), dan praktek-praktek monastik seperti dari Nasrani, menjalankan peniadaan diri (fana’) seperti dari Budha; dan ada kecenderungan untuk mengetahui realitas luhur melalui pemurnian jiwa dan iluminasi dari gnotisisme ; serta pandangan kegandaan (multiplicity) dari kebersatuan nya Neo-Platonisme, dan teosofi monistiknya dari Vedanta india.
Sementara sebagian yang lain menentang pandangan tersebut,Sufisme bagi mereka adalah sepenuhnya islami,yang merupakan ekspresi otentik dari semangat islami yang sejati. Mereka jelaskan, bahwa kehidupan bersahaja seperti banyak dijalankan kaum Sufi adalah meniru kehidupan Rasul dan para sahabatnya; sedangkan pengasingan diri dari masyarakat ramai diklaim sebagai sesuai (juga) dengan syariat , yaitu membebaskan diri dari pengaruh glamour (nya) keduniawi-an dan kemunduran (dekadensi) moral lingkungan dan pejabat (korupsi) yang lebih banyak tidak amanah (lagi), sementara kecenderungan “mereka” dikalangan sufi untuk intens berserah diri, dan berdzikir juga memisahkan diri dari glamournya dunia yang hiruk pikuk-dan banyak literatur sikap sufi seperti ini sangat dipuji oleh Rasul; sedangkan pandangan teosofis mereka, bahkan konsep filosofis dari wahdat-al wujud sekalipun, mereka kemukakan dengan argumentasi al-Qur’an dan al-Hadits-
*Pandangan (pakar) lainnya mencoba membedakan Sufisme ortodoks (al-Tashawwuf al Sunni), misalnya yang dirumuskan oleh al-Ghazali (wafat 505H/1111M) dengan Sufisme filosofis (al-Tashawwuf al Falsafi) yang dikembangkan para sufi seperti Ibnu al-Arabi (wafat 638H/1240M). Pembagian ini menyiratkan bahwa gagasan yang pertama dianggap sepenuhnya bertolak (asal muasal) dari ajaran islam. sedangkan yg kedua berupa gagasan dimungkinkan terkoreksi dari unsur yang lain.
Penulis Sufisme awal , seperti al-Sarraj (Abu Nasr ‘l –Sarraj) wafat 378H/988M-tercantum dalam “al-Luma”; (dinyatakan) ; bahwa Sufi adalah wakil Allah di Bumi , wali-wali dari rahasia-Nya , pengetahuan-Nya ,dan ciptaan-Nya terbaik, Mereka pilihan Tuhan,teman-teman yang Mulia,teman-teman setia orang beriman jahir dan bathin dan orang-orang yang paling dicintai , muttaqun, sabiqun,abrar,muqarabun,abdal dan siddiqun semuanya berasal dari mereka (hal.19).
Pengalaman fana dan baqa’ tidak akan memberi pengetahuan khusus, dan tidak diatur (pula) dalam syariah Rasul. Suatu ketika Syeikh Baha-ud-Din ditanya : “Apakah tujuan Suluk ?” Maka jawabnya : “Tujuannya adalah mengetahui secara rinci apa yang baru engkau ketahui secara singkat, dan untuk merasakan dalam penglihatan apa yang telah engkau ketahui lewat penjelasan dan argument” . Mengomentari pernyataan tersebut, Sirhindi berkata : “Syekh (Naqsyabandi) tidak ingin menyatakan bahwa tujuan (suluk) adalah mencari atau mendapatkan pengetahuan yang ada diluar jangkauan syariah.
Memang merupakan kenyataan, bahwa seorang Sufi (istilah kekinian(nya) ialah pengamal thareqah) banyak menemukan gagasan dalam suluknya, Tetapi apabila ia sampai pada titik akhir, maka berbagai gagasan yang penuh sesak tersebut akan menguap keangkasa. Kemudian akan menemukan kebenaran yang rinci sebagaimana yang diperolehnya dari Syariat, dan kemudian berpindah dari nalar yang sempit, untuk kemudian masuk ke dalam ruang teramat luas dari kasy’. (Komentar saya) : “Seorang Salik akan menjadi “Saksi” Jahir dan Bathin atas syariat yang diketahuinya”. Sehingga ada pertanyaan ‘orang’ nyeleneh menguji pada pengamal thareqah tentang makna dua kalimah syahadat,…Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah,…..Maka hatinya (menjawab) serta merta membenarkan keberadaan Allah,..dan Muhammad adalah utusan Allah,..serta merta (pula) menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah panutan lahir dan bathin, bagi orang (percaya) ‘ada’(nya) alam akherat, bukan dogma semata..Fatwa Ayahanda Guru,”Semula dogma (ia), namun kesudahannya engkau dapatkan kepastiannya”.
Insya Allah ,…Bersambung.

No comments: