Monday, March 10, 2014

SEJARAH KAUM AHLUS SUNNAH WALJAMA'AH (ASWAJA)

Rasulullah saw. Wafat tanggal 2 rabi'ul awal tahun 11 hijriyah, bertepatan dengan 8 juni 632 M. Pada hari wafat beliau kaum Ansar berkumpul disatu tempat bernama SAFIQAH BANI SA'IDAH untuk mencari khalifah pengganti Rasulullah saw. Kaum Ansar dipimpin oleh Sa'ad bin Ubadah (ketua kaum Ansar dari kaum Khazraj). Mendengar hal ini kaum Muhajirin mendatangi tempat tersebut. Dipimpin oleh Abu Bakar Shiddiq. Dari hal keputusan rapat terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama pengganti Rasulullah. Ummat pada masa ini belum terpecah pecah masih bersatu. Pada tahun ke 30 Hijriyah timbullah paham Syi'ah yang dicetus oleh Abdullah bin Saba' yang beroposisi dengan khalifah Usman bin Affan. Ia adalah seorang yahudi yang masuk Islam berasal dari Yaman. Kemudian pada tahun 37 H timbullah paham Khawarij setelah peperangan Siffin antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sofyan. Kaum ini keluar dari golongan Ali dan Muawiyah.

Kemudian pada permulaan abad ke II H timbullah kaum Mu'tazilah yang dipimpin oleh Washil bin Atha' (80 H-113) dan Umar bin Ubeid (wafat 145 H). Kemudian muncullah paham Qadariah dan Jabariah, di iringi dengan paham kaum Mujaisimah. Kemudian lahirlah paham Ibnu Taimiyah. Pada Abad ke III Hijriyah lahirlah kaum Ahlus Sunnah Waljama'ah yang dipelopori oleh Imam Abu Hasan 'Ali-Asy'ary (260 H-324 H) dan Abu Mansur Al-Maturidy (wafat 333 H). Abu Hasan Asy'ary awalnya adalah kaum Mu'tazilah yang berguru langsung kepada tokoh Mu'tazilah yang kebetulan ayah tirinya, bernama Abu 'Ali Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Jaba'i (wafat 303 H). Namun beliau menemukan keganjilan-keganjilan fatwa dari paham Mu'tazilah yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi, bertentangan dengan keyakinan Nabi dan para Shahabatnya.

Faham Mu'tazilah saat ini berkembang pesat karena di dukung oleh tiga orang Khalifah Abbasiyah yaitu Ma'mun bin Harun Ar-rasyid (227-232 H), Al-Mu'tashim (218 H - 227 H) dan Al-Watsiq (227-232 H). Setelah bertaubat dari kesalahannya pada suatu hari disebuah Masjid di Basrah beliau melepaskan paham Mu'tazilah dan membawa kepada kemurnian 'Aqidah yang sesuai dengan 'Aqidah Nabi dan para Shahabatnya, yang sesuai dengan Al-Qur'an dan hadits. Beliau mengarang 200 kitab yang berhubungan dengan Ushuluddin diantaranya Ibanah fi Ushuluddin, Maqalatul Islamiyyin, Al-Mu'jaz dan lainnya.

Kemudian 'Aqidah yang belum murnikan kembali terus turun temurun diwariskan kepada generasi kegenerasi, sehingga lahirlah Ulama Ulama besar yang menyebarkan pengajian pengajian Imam Asy'ary. Mereka adalah Imam Abu Bakar Al-Qaffal (wafat 365 H), Imam Abu Ishaq Al-Asfaraini (wafat 365 H), Imam Hafiz Al-Baihaqi (wafat 458 H), Imam Haramain Al-Juwaini (wafat 460 H), Imam Al-Qasim Al-Qusayri (wafat 465 H), Imam Al-Baqilani (wafat 403 H), Imam Al-Ghazali (wafat 505 H), Imam Fakhruddin Ar-razy (wafat 606 H), Imam Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H).

Kemudian terus berabad-abad dipertahankan keyakinan ini oleh Ulama Ulama yang menulis kitab kitab terkenal seperti Imam Abdullah Syarqawi (wafat 1227 H) dengan kitab Syarqawinya, Ibrahim Bajuri (wafat 1272 H) dengan Tahqiqul Maqam fi kifayatil 'awam, Tuhfatul murid 'ala jauharad tauhid, Muhammad Nawawy Banten (wafat 1315 H) dengan Tijan Darrarinya, kitab kitab ini dipelajari disebagian besar dunia Islam, termasuk Indonesia. Khususnya Aceh paham ini disebarkan oleh Ulama besar Aceh seperti Syaikh Abdurrauf As-singkili, kemudian terus kegenerasi selanjutnya lahirlah Ulama besar Aceh seperti Syaikh. H. Hasan Krueng Kalee dan Syaikh Abuya Muda Waly Al-khalidy, kedua Ulama ini berperan besar mencetak atau melahirkan Ulama Ulama besar Aceh lainnya yang mempertahankan 'Aqidah Ahlus Sunnah Waljama'ah yang terus turun temurun hingga saat ini, baik yang sudah wafat sprti Aboen Abdul Aziz Samalanga, Abu Tanoh Mirah, Abon Tanjongan, Abuya Muhibbuddin Waly (putra pertama Abuya Muda Waly), Abuya Nasir Waly, Abuya Ruslan Waly, Abu Batee Lhee Lhoksukon, Abu Ishaq Ulee Titi, Abu Kruet Lintang, dan banyak lagi yang lainnya. maupun yang masih hidup seperti Abu Tumin Blang Blahdeh, Abuya Djamaluddin Waly, Abu Matang Perlak, hasil didikan Ulama Ulama besar ini melahirkan Ulama Ulama yang hari ini masih mempertahankan 'Aqidah Ahlus Sunnah Waljama'ah seperti Waled Hasanoel Bashry Samalanga, Abu Usman Ali Kuta Krueng, Abu Dawud Lhok Niboeng, Abu Paya Pasi, dan banyak lagi Ulama Ulama besar Aceh yang detik ini mereka tetap mempertahankan paham Ahlus Sunnah Waljama'ah, dengan mengajarkan kitab kitab karangan Ulama Ulama Ahlus Sunnah Waljama'ah.

Demikianlah adanya Ahlus Sunnah Waljama'ah. Semoga kita mengetahui sejarah dengan baik dan benar tidak dikaburkan oleh orang-orang yang mendakwakan dirinya Ahlus Sunnah Waljama'ah padahal mereka bukan Ahlus Sunnah. Sedangkan dalam ilmu Fiqih, Mazhab yang wajib di taklid adalah mazhab Imam Syafi'i, Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Hambali. Dengankan dalam tasawuf mengikuti Imam Junaid Al-Bughdady.

No comments: